Selamat

Selamat datang di Santri Gubrak
Media Santri Nasionalis, Pluralis dan Indonesianis

Selasa, 07 Desember 2010

MARI MERAWAT DUNIA

Harus ada kelompok seperti ini “pendamai” !!!


Sebuah statemen menarik dari Gus Nuril di sebuah acara rutin pengajian dwi mingguan yang di gelar oleh Pesantren Sokotunggal Abdurrahman Wahid, Rawamangun, Jakarta. (Kamis,25 November 2010). Lagi lagi tokoh yang sering mengaku sebagai ‘gedibal’ Gus Dur ini kembali menegaskan betapa pentingnya menjaga keseimbangan dalam membangun kebersamaan antar umat beragama.

Jika pelaku agama terus menerus terjebak pada fanatisme berlebihan sembari terus memupuk kebencian, kecemburuan dan kecurigaan terhadap saudara penganut agama lain, maka beliau khawatir, permusuhan yang telah berlangsung ribuan tahun ini terancam tidak pernah bermuara pada titik damai. Jika ini terjadi, lantas dimana letak urgensinya agama ???


Gus Nuril kemudian menyitir sebuah kisah mengharu biru tentang pergulatan psikologis yang di alami Nabi Ibrahim dan istri istrinya. Terutama Hajar dan Sarah. Dua wanita mulia yang di kemudian hari di takdirkan oleh Tuhan untuk melahirkan nabi nabi dan raja raja legendaris sepanjang masa. Melahirkan sejarah luar biasa yang terus akan di ingat umat manusia, dan tak kalah istimewanya, dari rahim kedua wanita salihah ini lahir nabi nabi pembawa agama agama besar. Terutama Yahudi, Nasrani ‘Kristen’ dan Islam.


Tiga arus utama yang sejatinya sama sama mengusung teologi dengan akar yang sama. Sama sama menahbiskan Ibrahim sebagai peletak dasar ideology dan memiliki keterkaitan tak terbantahkan antara satu dengan yang lainnya. Namun ironi, di sepanjang sejarahnya, tiga mainstream besar ini tidak pernah benar benar bias mencapai kata sepakat. Al hasil, klaim mengklaim sejarah, perebutan pengaruh dan perlombaan untuk mendapatkan stempel sebagai satu satunya penerus sejati agama Ibrahim tak pernah sepi mengiringi perjalanan ke tiga agama tersebut. Dan terkadang persaingan ini melahirkan serentetan konfrontasi fisik lagi berdarah darah.


Berapa ribu ? berapa juta ? berapa ratus juta umat manusia menyerahkan hidup matinya untuk memenuhi ambisi ke egoan golongan masing masing ?. Padahal mereka berasal dari sumber dan akar yang sama. Lantas bagaimana nasib milyaran umat manusia yang hingga kini masih menyimpan dalam otaknya, pola pikir kaku, egois, penuh dendam dan kecemburuan ?.
Akankah kita akan setia menunggu detik detik dimana  pemikiran pemikiran itu terakumulasi, menjadi bola liar, tak terkendali dan pada akhirnya meledakkan sebuah perang besar, keji, berdarah darah dan tanpa akhir ???.

“Harus ada kelompok yang bias mendamaikan”

Lebih spesifik Gus Nuril menegaskan bahwa perlu ada upaya dari semua pihak untuk mengkaji ulang penafsiran penafsiran teks yang selama ini berpotensi menimbulkan sengketa, yang pada gilirannya akan menghambat gerak laju syiar syiar tauhid yang telah di bangun dengan susah payah oleh Ibrahim, leluhur para nabi.


Tuhan tidak mungkin salah menurunkan Ibrahim.


Tuhan mustahil keliru menjadikan Musa, Isa,  Muhammad dan nabi nabi lain sebagai orang orang suci yang memelihara, merawat, dan mensyiarkan ajaran ajaran Ibrahim.


Tuhan juga tidak mungkin salah menurunkan kitab kitab suci untuk umat manusia. Kitab kitab suci pasti benar. Sekarang tinggal bagaimana kita menafsirkan teks teks suci itu untuk kemudian mengimplementasikan dalam tataran nilai. Mengejawantahkan agama sebagai penjaga perdamaian, jalan meraih kebahagiaan demi mencapai Tuhannya.


Di segmen terakhir, Gus Nuril mengatakan bahwa : ‘barangsiapa mengatakan kafir pada orang lain, maka sesungguhnya ia telah mengatakan kafir pada dirinya sendiri’.
Sebuah kutipan arif, mengingatkan saya pada apa yang pernah di ucapkan Gus Dur : Barangsiapa menghina agama lain, sesungguhnya ia telah menghina agamanya sendiri.

Untuk tiap-tiap umat diantara kamu , Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu ( Al Maidah 48)

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ( Al Baqarah 177)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama ( Al Baqarah 256)

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ( Al Hajj 40)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),
merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. ( An Nisaa 150-151)

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. ( An Nisaa 164)

"Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." ( Al Baqarah 285 )

Oleh Mohammad Hafidz Atsani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar